Monday, 25 January 2016

Belajar survive di Waduk Jatiluhur

Mungkin saya belum pernah sebut di post saya sebelumnya, sekitar April 2015 saya mulai ikut dalam program S2 Magister Management di PPM School of Management. nah, kebetulan salah satu mata kuliah yang saya wajib ambil adalah Pengembangan Diri. apa sih pengembangan diri? memang kalau saya gak lulus artinya saya gak berkembang donk ya? hahah. itu pemikiran awal saya ketika masuk di pertemuan pertama. Singkatnya salah satu kegiatan mata kuliah ini adalah "Outbound " di Waduk Jatiluhur

Sebenarnya acara ini sudah berlangsung di November 2015, namun krn situasi dan kondisi, saya baru sempet nulis blog lagi.

Anywho,
Terus terang,saya baru pertama kali mendengar kalau ada outbound di Waduk Jatiluhur. seperti di post dulu-dulu, saya cukup aktif di perkumpulan gereja saya dan kami sering kemping di beberapa tempat dengan acara Supercamp, tapi saya belum pernah denger ada kemping di waduk. Hebatnya, begitu saya ijin ke bapak saya, beliau bilang begini: "bagus tuh, saya dulu pernah outbound disana 2 minggu, itu biasa tempat buat training militer. satpam, TNI. ntr juga kamu makan bareng lumpur."  jantung gw langsung turun ke dengkul. ahhhahha..

PPM sendiri menggunakan jasa Pancawati sebagai tim outbound.
Kami berangkat di hari sabtu dan pulang di hari minggu. Kegiatan kami sangat full day dari pagi hingga malam di hari sabtu dan minggu pun aktivitas menguras tenaga sampai siang. Pada dasarnya kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok saya berisi 9 orang,3wanita dan 6 pria. Setiap kelompok didampingi 1 instruktur dan 1 observer dari Pancawati. setiap kelompk akan melakukan aktivitas bersama selama outbound berlangsung.

Dalam benak saya, outbound nya paling ga jauh-jauh dari flying fox, atau spider climbing, moon walk trees, atau sejenisnya lah. Atau karena kita di waduk, paling naik perahu. Ternyata, outbound nya  memang cuma 2 jenis yaitu dayung dan hiking lari 1 jam. HAHAHAHAH.  

Pengalaman luar biasa sekali ketika setiap kelompok harus  mendayung mengelilingi waduk jatiluhur dengan peralatan kompas model lam. cari sendiri titik koordinat nya, tentukan mau tidur enak apa makan dulu. bayangkan dengan 9 pasang tangan saja,kami harus mengendalikan perahu nelayan tanpa atap dari jam 11 siang sampe 5 sore , dimana arus air di waduk tergolonh kencang,  dengan angin kencang yang mendorong kami ke kanan terus. Lapar dan  panas terik membuat kami  cepat lelah dan memang SANGAT lelah, tangan keram seperti ditonjok-tonjok orang, dan situasi mendung ketika perjalanan pulang kami ke titik awal pun ditutup dengan HUJAN! lengkap ya! Mendayung selama 6 jam bagi gw adalah pengalaman pertama dan terakhir deh. terima kasih. 

saya ga perlu menceritakan detail seperti apa sih outbound nya, ngapain aja kami disana, dikasi apa aja, karena intinya cuma dayung aja kok. hahhah.tapi dari mendayung itu, ada 3 point penting yang saya dapatkan. 

1. Self Development
saya sendiri merasa perkembangan saya sebelum dan sesudah outbound ini cukup banyak terlihat. saya jadi ingat beberapa tahun lalu saat SMP,SMA,Kuliah saya ikut ospek yang diteriakin kakak kelas, disuruh megerjakan ini itu dengan alasan pengembangan diri dan macam-macam. Bagi saya semua itu "bullshit" sekarang. karena kita ga perlu kok membuat ajang teriak-teriak demi mental. ataupun memberikan tugas berjibun untuk memberikan tekanan, memang terkadang untuk bidang tertentu seperti pelatihan tim SAR,pelatihan ABRI, itu mgkn jadi hal wajib. Namun di Indonesia terkadang hal tersebut menjadi  ajang balas dendam dan pelampiasan ilmu bela diri yang salah. Perkembangan diri  menjadi hal penting bagi kita, kita wajib  tahu apa saja kelemahan dan kelebihan kita, potensi apa yang kita miliki,jangan sampai semua yang kita kembangkan menjadi tidak tepat sasaran.

Perkembangan diri juga merupakan pembuktian bagi kita pribadi. Tentu saja dengan dukungan sosial yang ada  akan membantu kita lebih cepat berkembang dengan tepat. Saya sekarang jadi mengetahui potensi apa yang saya miliki. Selain itu menurut saya sekarang ini, pelatihan mental tidak hanya bisa dilakukan dengan kekerasan,  sebab itu tidak akan membuat perkembangan menjadi maksimal. Bahkan kadang pelatihan itu ditambah  dengan kekerasan yang  non-sense dan tidak terarah.

Mental yang baik harusnya berkembang karena perluasan cara berpikir seseorang menjadi lebih kuat dan tahan banting, jika dengan kekerasan, perkembangan mental itu ada karena dasar fear atau ketakutan, dan itu kurang tepat sasaran dan hasilnya akan jadi kurang maksimal. Menurut saya, mental dapat dilatih dengan satu hal, yaitu keadaan kritis yang berfokus pada survive.

2. Survive 
Survive disini artinya bukan hanya sekedar sharing food, sharing place , dll. tapi survive untuk diri sendiri dan tim kita. Bagaimana kita bisa bertahan dan keluar dari setiap permasalah yang ada baik di kelompok maupun dari diri kita sendiri. Dalam hal ini, tim Pancawati membiarkan kami berpikir sendiri dan secara tim, bagaimana cara bertahan di outbound ini. Apa yang harus tiap individu lakukan, apakah harus bicara terus, mengeluh terus, atau harus diam aja, atau harus bagaimana, karena saat inilah akan muncul keegoisan dan kepasrahan. Setiap orang ternyata memiliki cara nya sendiri dalam bertahan,

Banyak sekali program-program survival dengan tema bagus. Kadang ada program training survival untuk  alam,. Untuk beberapa goal tertentu memang tidak disalahkan. Namun kali ini tim Pancawati melatih kami secara perlahan dan melihat bagaimana setiap individu berjuang masing-masing untuk bertahan. Apa saja yang dilakukan setiap anggota untuk bertahan mencapai tujuan.


3. Team work   
Ini sudah pasti menjadi salah satu yang di dapatkan, tapi mengapa saya memasukkan poin ini di urutan ketiga? sebab team work itu sebenarnya dapat terbentuk jika point 1 dan 2 bisa tercapai. Untuk beberapa keadaan, saat kita mencapai limit kita, team work itu akan muncul dengan sendirinya, ditambah lagi jika proses self development tiap individu itu keluar, maka otomatis para leader-leader dalam group tersebut akan muncul, dan ketika alam membiarkan itu berkembang, semua anggota tim akan secara alami mengikuti sosok true leader dan akan ada beberapa follower yang terbawa dalam situasi kondusif.

Tentu saja selain 3 point itu, masih banyak yang dipelajari baik teknis maupun non teknis. tapi balik lagi 3 core learning nya ya 3 diatas. 

Bagi saya, ini adalah pengalaman tak terlupakan seumur hidup saya, hasil nya luar biasa. Tidak hanya menghasilkan tangan dan muka yang gosong karena terik, tapi saya mendapat keluarga baru di tempat kuliah S2 saya.
Thank you PPM dan teman - teman Magister Management Eksekutif Muda 13. :)  

Note: sayang saya ga bisa mengabadikan foto-foto keseruan outbound kami karena HP kami dikumpulkan dari awal hingga akhir acara di esok harinya. :(

No comments:

Post a Comment